Bariatrik: Cara Ekstrim Potong Lambung Demi Tubuh Kurus

Bariatrik adalah operasi yang dilakukan untuk membantu seseorang menurunkan berat badan. Opsi ini dilakukan untuk Anda yang menderita obesitas ekstrim sehingga latihan dan diet saja tidak cukup.

Meski kelihatannya berbahaya, namun operasi ini mampu menurunkan angka kematian pada penderita obesitas dengan didukung oleh gaya hidup sehat. Bahkan saat ini operasi bariatrik ini telah ada di Indonesia.

Prinsip operasi bariatrik

Pencernaan dimulai dari mulut, tempat makanan masuk dan dikunyah serta bercampur dengan air liur yang mengandung enzim. Kemudian melewati tenggorokan dan masuk ke lambung. Di dalam lambung, makanan akan dicerna dan dipecah sehingga nutrisi dan kalori dapat diserap. Baru kemudian menuju usus kecil dan bercampur dengan empedu dan pankreas.

Dengan prinsipnya yang membatasi asupan dan penyerapan makanan, operasi ini akan mengganggu dan mengubah proses pencernaan, sehingga makanan tidak diurai dan diserap dengan cara biasa. Dengan menurunnya jumlah nutrisi dan kalori yang diserap, pasien yang melakukan operasi dapat menurunkan berat badan dan tidak lagi mengalami obesitas.

Untuk menentukan apakah seseorang mengalami obesitas, biasanya dokter akan menghitung indeks massa tubuh (BMI) terlebih dahulu. Setelah terbukti bobot tubuh berlebih (BMI lebih dari 35-40 kg), Anda bisa melakukan operasi ini. Terlebih jika tubuh mengindikasikan beberapa masalah kesehatan akibat obesitas, seperti diabetes tipe 2, artitis, jantung, hingga sleep apnea.

Baca juga: Bagaimana cara menghitung prosentase lemak tubuh?

Langkah operasi bariatrik

Seiring berkembangnya alat modern, operasi bariatrik kini lebih banyak dilakukan dengan menggunakan metode laparoskopi, yakni memasukan kamera teropong bercahaya dan alat lainnya melalui sayatan di perut. Hal ini membuat pasien merasa tidak terlalu sakit serta meminimalkan luka.

Namun jika laparoskopi tidak memungkinkan, operasi terbuka akan dilakukan. Prosedur bariatrik dengan laparoskopi ini hanya membutuhkan waktu 1-2 hari.

Jenis-jenis bariatrik

Ada empat jenis operasi yang mengubah proses pencernaan, diantaranya;

  • Adjustable Gastric Banding (AGB).
  • Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB).
  • Biliopancreatic Diversion with a Duodenal Switch (BPD-DS).
  • Vertical Sleeve Gastrectomy (VSG).

Masing-masing operasi memiliki kekurangan dan kelebihan. Untuk menentukan mana operasi yang tepat, penderita obesitas perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Kondisi pasien juga turut menentukan jenis operasi mana yang akan dilakukan.

Risiko pasca operasi bariatrik

Menurut American Society for Metabolic and Bariatric Surgery, risiko komplikasi utama prosedur operasi bariatrik adalah 4%. Ini jauh lebih rendah daripada risiko terkena komplikasi kesehatan terkait obesitas yang serius.

Namun ada beberapa risiko dan komplikasi yang biasanya terjadi pasca operasi, beberapa bahkan umum terjadi pada semua operasi, diantaranya;

  • Pendarahan.
  • Infeksi pada bekas luka.
  • Rasa nyeri.
  • Radang paru-paru.
  • Batu empedu.
  • Kekurangan vitamin dan nutrisi.
  • Mual, berkeringat, diare.
  • Kelebihan kulit (kulit yang mengendur).
  • Refluks asam lambung (pada operasi AGB).
  • Penyempitan kantung perut/ stenosis (pada operasi AGB).
  • Defisiensi nutrisi yang terlalu tinggi (pada operasi RYGB).
  • Sakit maag (pada operasi RYGB).

Perawatan pasca bariatrik

Setelah melakukan prosedur operasi, bukan berarti Anda langsung bisa menurunkan berat badan. Anda tetap perlu mengimbanginya dengan berolahraga yang cukup, hidup aktif, serta mengatur asupan makanan yang masuk ke tubuh Anda.

Selama seminggu pasca operasi, Anda hanya boleh mengonsumsi makanan yang bentuknya cair. Kemudian 3 minggu setelahnya hanya boleh makan makanan lunak. Anda dapat kembali makan seperti biasa setelah 2 bulan pasca operasi dimana luka operasi Anda telah sembuh.

Disamping itu, Anda juga harus memperhatikan kapasitas lambung Anda, yakni 3 ons untuk AGB dan 1 ons untuk RYGB. Untuk itu menyesuaikan waktu dan porsi makan sangatlah penting.

Selain itu pasca operasi hindari konsumsi makanan yang sulit dicerna seperti daging dan roti yang keras. Serta hindari konsumsi minuman berkarbonasi.

(Ayu/berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *