The King: Jatuhnya Binaraga Terhebat Sepanjang Masa

Ronnie Dean Coleman adalah binaraga yang mampu memecahkan rekor juara Mr. Olympia 8 kali berturut-turut (1998-2005) setelah Lee Haney. Definisi, kekuatan, dan kesimetrisan otot yang sempurna membuat dirinya mendapat julukan The King.

Namun karena latihan yang terlalu ekstrim, Ronnie akhirnya mengalami cedera pada pinggul dan punggung, sehingga harus menjalani operasi beberapa kali. Tekadnya untuk tetap berolahraga meski cedera membuat kondisinya semakin memburuk hingga harus menggunakan alat bantu hingga kursi roda.

Tahun 2018, sebuah film dokumenter berjudul The King mengulas kehidupan sang legenda hingga pada akhirnya harus jatuh. Film berdurasi 1 jam 33 menit ini menceritakan bagaimana Ronnie Coleman menjalani hidupnya sejak kecil hingga saat harus menghadapi operasi besar untuk mengobati tulang belakangnya.

Sosok anak muda yang tekun

Ronnie Coleman lahir dan tinggal di Louisiana, Amerika Serikat. Masa kecilnya dihabiskan bersama Ibu dan kakak laki-lakinya. Sejak kecil pria yang akrab disapa Big Ron ini hidup dengan sederhana. Ibunya hanya seorang pekerja di pabrik pembuat pakaian.

Pada usia 12-13 tahun, Ronnie mulai mencoba mencari uang dengan bekerja di Toserba. Ia juga berkeliling dengan mesin pemotong rumput untuk mencari rumah yang butuh jasa pemotong rumput.

Masuk ke masa SMA, Ronnie adalah anak yang pintar. Ia termasuk dalam siswa yang berprestasi dan aktif banyak kegiatan olahraga, seperti rugby dan angkat beban. Ia selalu berusaha maksimal untuk mendapatkan prestasi di setiap hal yang ia tekuni.

Polisi adalah profesi terbaik

Setelah lulus dari sekolah, Ronnie masuk ke akademi. Ia mengambil jurusan manajemen. Namun karena nilai akuntansinya sempurna, dosen pun menyarankan Ronnie untuk masuk akuntansi. Terbukti ia lulus dengan peringkat terbaik di kampusnya.

Sayangnya setelah lulus, ia kesulitan mencari kerja sesuai jurusan, lantaran harus memiliki pengalaman. Pada akhirnya ia menerima pekerjaan apa saja yang ia dapat. Pekerjaan pertamanya setelah lulus adalah di Domino’s Pizza.

Meski tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, Ronnie bersyukur karena saat itu ia sangat miskin. Pria yang hobi memancing ini bahkan sangat menunggu waktu kerja agar bisa makan di tempat kerjanya. Ia bekerja di sana selama 2 tahun.

Sembari bekerja, Ronnie tetap mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliahnya. Tapi hasilnya nihil. Pengalaman tetap diprioritaskan. Hingga akhirnya ia menemukan lowongan polisi di sudut koran dimana posisi tersebut tidak membutuhkan pengalaman. Ronnie pun pergi ke Arlington.

Setelah mengikuti rangkaian tes, Ronnie diterima sebagai polisi dan menjalankan profesinya dengan sungguh-sungguh. Di tahun pertama, pria dengan tinggi 180 cm ini telah mendapatkan penghargaan. Dan meskipun ia telah mendapat gelar Mr. Olympia, ia tetap setia dengan profesinya ini.

Metroflex Gym saksi perjalanan karirnya

Ketika Ronnie lulus dari akademi, ia tidak lagi diperbolehkan berlatih di gym kampus. Jadi terpaksa ia harus berlatih di tempat lain. Sayangnya kondisi keuangan Ronnie sangatlah buruk, hingga akhirnya ia berlatih di tempat yang gratis di stasiun.

Saat ia sedang berlatih, seseorang datang menghampirinya. Dia adalah Brian Dobson, pemilik Metroflex Gym yang tanpa ragu memperbolehkan Ronnie untuk berlatih di gymnya secara gratis. Bahkan tidak terbatas waktu. Alasannya Brian melihat potensi Ronnie yang kelak akan menjadi atlet terhebat.

Brian Dobson kemudian menjadi mentor bagi Ronnie. Ia melatih, mengajarkan berbagai pose untuk pertandingan. Bahkan hingga kini, Ronnie masih setia berlatih di gym sederhana tersebut. Bagi Ronnie, Brian adalah orang yang sangat berjasa untuk karirnya sebagai binaraga. Ia bahkan telah menganggap Brian sebagai keluarganya sendiri.

Rekor dan prestasi yang luar biasa

Bagi para kompetitornya di panggung Mr. Olympia, Ronnie Coleman adalah sosok yang hebat, namun rendah hati. Definisi ototnya sangatlah luar biasa. Bahkan hingga saat ini belum pernah ada binaraga lain yang dapat menyaingi. Ronnie juga tipe orang yang sederhana, yang hanya punya tujuan jadi binaraga terhebat. Jadi apapun kondisinya dan meskipun sulit, ia tidak akan pernah mengeluh.

Sebelum menjadi juara pertama di Mr. Olympia 1998, Ronnie telah mengikuti kontes ini berkali-kali. Bahkan beberapa kali tidak masuk kualifikasi. Beberapa lawannya di atas panggung sering kali bertanya-tanya. Mengapa ia masih tetap setia mengikuti kompetisi tahunan ini, meski tidak pernah mendapat juara. Pada saat itu pria yang kini berusia 55 tahun ini menjawab, karena ia sangat menyukai binaraga.

Setelah berhasil duduk di posisi pertama, semua orang memuji Ronnie. Kehidupan yang begitu sulit, latihan keras, dan motivasi yang kuat pada akhirnya memberikan hasil yang besar. Ronnie mendapatkan 8 kali juara berturut-turut serta gelar The King-nya.

Tidak hanya itu, Ronnie juga memenangkan gelar pro IFBB sebanyak 26 kali, serta rekor squat dan deadlift 800 lbs (hampir 363 kg). Pada tahun 2001 ia memenangkan gelar Mr. Olympia sekaligus Arnold Classic dalam 1 tahun. Gelar tersebut merupakan tahun terbaik bagi Ronnie.

Jatuhnya sang legenda binaraga

Setelah kemenangannya yang ke-8, Ronnie harus rela turun dari gelar yang selama ini ia pertahankan. Tahun 2006 gelar Mr. Olympia diraih oleh Jay Cutler setelah sekian lama berada di posisi ke dua. Dan di tahun 2007, Ronnie memutuskan untuk bertanding untuk yang terakhir kali di Mr. Olympia dengan berada di posisi ke-4.

Pensiunnya Ronnie juga disebabkan karena kondisi cedera yang semakin parah akibat latihan yang terlalu ekstrim. Ia mengaku cedera ini memang sudah sejak lama dialaminya, tepatnya saat bermain rugby. Dan bertambah buruk sejak ia mendengar suara keras saat latihan setelah memenangkan gelar Mr. Olympia yang ke dua.

Untuk mencegah semakin parahnya cedera, Ronnie melakukan operasi pertama di tahun 2007 pada bagian pinggul dan punggungnya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir rasa sakit yang ia derita selama ini. Meski begitu, Ronnie tetap aktif berolahraga untuk menjaga ototnya tidak menyusut.

Sayangnya meski telah melakukan beberapa kali operasi dan menghabiskan banyak biaya, cedera tersebut tak kunjung membaik. Kondisinya semakin buruk. Bahkan ia harus menggunakan kursi roda dan tongkat untuk membantunya berjalan.

Tahun 2018, sang legenda binaraga akhirnya melakukan operasi yang paling besar karena tulang punggungnya. Berbeda dengan sebelumnya, operasi ini dilakukan dari depan tubuh, sehingga harus mengeluarkan organ usus dari tubuhnya.

Untuk masa pemulihan, Ronnie rutin datang ke klinik cryotherapy dan juga memeriksakan diri ke dokter. Ia juga kerap konsumsi obat (oxycodone) untuk mengurangi rasa sakit saat ia bergerak.

Ronnie Coleman binaraga terhebat sepanjang masa

Meski dulunya Ronnie Coleman hanya seorang anak keluarga miskin dari desa, ia kini telah menjadi seseorang yang sangat dibanggakan. Mungkin ia bukan orang yang berpendidikan tinggi, namun keuletannya berhasil membawa dirinya menjadi seorang legenda di mata dunia dan menorehkan rekor dalam sejarah.

Kini masa pensiun Ronnie dihabiskan bersama sang istri Susan Coleman dan 8 anak mereka. Ronnie kerap bercengkrama bersama kedua anak terakhir mereka yang masih kecil, juga menyempatkan waktu berolahraga di Metroflex walau hanya ringan-ringan saja. Ia juga mengelola bisnis suplemen yang ia rintis sejak berhenti mengikuti berbagai kontes.

(Ayu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *