
Tahukah kamu, bahwa orang-orang yang mempunyai kebiasaan gaya hidup positif memiliki otak delapan tahun lebih muda?
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan di University of California, menemukan beberapa kebiasaan yang bisa dilakukan agar otak bisa awet muda, bahkan hingga 8 tahun lebih muda.
Jawabannya adalah dengan tidur nyenyak, pengelolaan stres dan dukungan sosial yang kuat.
Dilansir dari Dailymail, studi ini melibatkan 128 orang dewasa paruh baya dan lanjut usia dari empat benua yang perkembangannya diikuti hingga 2 tahun. Hampir 70 persen pesertanya adalah seorang perempuan dan kebanyakan mengalami nyeri kronis.
Hasilnya, peserta yang melakukan kombinasi antara faktor psikologis dan gaya hidup sehat memilki otak yang terlihat lebih muda hingga 8 tahun dari perkiraan.
Sebaliknya, responden yang mengalami ‘kesulitan hidup’ seperti nyeri kronis, pendapatan rendah, pendidikan rendah, dikaitkan dengan otak yang terlihat lebih tua.
Di samping itu, dalam analisis yang dipimpin oleh para peneliti dari University of Limerick, para ilmuwan memeriksa data dari lebih setengah juta orang. Selama periode penelitian, 43.851 peserta meninggal dunia.
Tim peneliti mengkaji lima sifat kepribadian utama yaitu :
- Neurotisme
- Ekstroversi
- Keterbukaan
- Keramahan
- Kehati-hatian (conscientiousness)
Orang dengan tingkat neurotisme yang lebih tinggi, ditandai dengan kecemasan dan ketidakstabilan emosi, memiliki risiko tiga persen lebih tinggi untuk meninggal.

Sedangkan, tingkat kesadaran diri yang lebih tinggi – yang dikaitkan dengan sifat terorganisir, disiplin, dan dapat diandalkan – memilki risiko kematian sepuluh persen lebih rendah.
Ekstroversi, yang mencerminkan kemampuan bersosialisasi dan keterlibatan dengan orang lain, dikaitkan dengan risiko kematian yang tiga persen lebih rendah, dengan efek yang sangat kuat terutama di Amerika Serikat dan Australia.
Tidak ditemukan hubungan yang jelas antara angka kematian dan keterbukaan atau keramahan.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa cara kita berpikir, merasa, dan berperilaku tidak hanya terkait dengan kepuasan hidup dan hubungan sosial, tetapi juga dengan berapa lama kita hidup,” kata Dr. Máire McGeehan, asisten profesor di Universitas Limerick yang memimpin studi tersebut dikutip dari Dailymail.
Baca juga : Apakah Steroid Memengaruhi Fungsi Otak?




