
Bagi sebagian orang, mata merah mungkin dianggap sebagai masalah sepele. Tinggal ditetes obat mata, lalu berharap kondisi kembali normal.
Namun, pengalaman Endy Bugie menjadi pengingat bahwa kebiasaan tersebut bisa berujung serius jika obat digunakan sembarangan.
Endy mengaku kehilangan sekitar 75 persen penglihatannya secara permanen setelah didiagnosis mengalami steroid-induced glaucoma atau glaukoma akibat penggunaan steroid.
Kondisi tersebut terjadi ketika penggunaan kortikosteroid memicu peningkatan tekanan intraokular atau tekanan di dalam bola mata. Dalam jangka panjang, tekanan yang terlalu tinggi dapat merusak saraf optik dan menyebabkan gangguan penglihatan yang bersifat permanen.
Dalam unggahannya di Instagram pada 15 Juli 2026, Endy mengungkap bahwa masalah tersebut bermula dari kebiasaannya menggunakan obat tetes mata ketika matanya memerah.
“Setiap kali mataku merah, aku sering meneteskan Cendo Xitrol karena memang membuat mataku cepat membaik.” tulisnya.
Endy mengaku saat itu tidak mengetahui bahwa obat yang digunakannya mengandung kortikosteroid dan tidak memahami risiko penggunaan steroid dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter.
Endy juga mengatakan bahwa dirinya memiliki high myopia atau rabun jauh dengan minus yang tinggi.
Menurutnya, kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian karena ia juga rutin melakukan latihan angkat beban berat.
Namun, penting untuk dipahami bahwa orang dengan mata minus tinggi bukan berarti otomatis tidak boleh melakukan latihan beban.
Dokter sekaligus praktisi kebugaran dr. Dion Haryadi, PN1, CHC, AIFO-K, menjelaskan bahwa miopia tinggi memang berkaitan dengan struktur bola mata yang lebih memanjang sehingga beberapa bagian mata, termasuk retina, dapat menjadi lebih rentan terhadap masalah tertentu.
Karena itu, orang dengan minus tinggi perlu lebih memperhatikan kesehatan mata dan melakukan pemeriksaan secara berkala.

“Jadi memang betul, orang-orang dengan minus lebih tinggi itu punya resiko kerusakan mata yang lebih tinggi. Karena struktur mata orang yang minusnya lebih tinggi itu lebih lonjong. sehingga bagian retina dan saraf yang ada di belakang itu bisa lebih tipis dan lebih rentan untuk sobek atau rusak.,” jelas dr. Dion melalui akun Instagramnya.
“tapi bukan berarti nggak boleh angkat beban berat sama sekali. tetap boleh latihan beban tapi dengan form yan tepat. cara nafasnya juga harus betul kalau bisa nggak perlu yang sampai ngeden nahan nafas,” tambah dr Dion
Ia juga menyarankan agar seseorang tidak langsung menaikkan beban secara ekstrem dan tidak menjadikan one-rep max sebagai target di setiap sesi latihan.
“Kayak ngerjain one rep max setiap sesi tuh juga ngapain gitu, buat apa? tapi kalau latihan beban dengan beban yang masih terkontrol dengan RPE 6,7,8 ya 9 sesekali gitu ya latihannya juga nggak free weight semuanya ada yang pakai mesin juga misalnya lalu nggak ujug-ujug langsung angkat beban yang berat gitu naikin bebannya secara perlahan ya masih boleh, nggak masalah,” terang dr Dion.
dr. Dion menyarankan orang dengan minus tinggi, terutama sekitar minus 6 atau lebih, untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis mata guna memastikan tidak ada masalah pada retina maupun bagian mata lainnya.
Terlebih jika seseorang juga menggunakan obat tetes mata berbasis steroid dalam jangka panjang.
Baca juga : Budaya Steroid




