
Peptide dan steroid baru-baru ini sedang marak diperbincangkan di Indonesia. Khususnya Peptide, yang sedang ‘digoreng’ oleh beberapa influencer fitness di Indonesia dengan mengatakan “Ini obat bagus untuk otot tanpa resiko”.
Meskipun keduanya dikenal dapat meningkatkan pertumbuhan otot, pemulihan dan performa fisik, keduanya berfungsi melalui mekanisme biologis yang berbeda dan risiko serta manfaat yang berbeda pula.
Yuuk kita cari tahu.
Apa itu Peptide?
Peptide adalah rantai pendek asam amino, biasanya terdiri dari 2-50 asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptide. Banyak peptide diproduksi secara alami dalam tubuh dan bertindak sebagai molekul pemberi sinyal yang terlibat dalam :
- Pengaturan hormon
- Respons imun
- Perbaikan dan regenerasi jaringan
- Metabolisme dan pemecahan lemak
Dalam konteks kebugaran dan pemulihan, peptide sintesis seperti growth hormone-releasing peptides (GHRP) atau growth hormone secretagogues (GHSs) digunakan untuk merangsang produksi hormon pertumbuhan endogen. Hal ini menyebabkan :
- Pemulihan otot jadi lebih baik
- Peningkatan metabolisme lemak
- Peningkatan produksi kolagen dan kesehatan sendi
- Tidur dan recovery lebih baik ( Svensson et al., 1998, Jurnal Endokrinologi & Metabolisme Klinis )
Adapun jenis-jenis peptide yang biasa digunakan untuk peningkatan performa adalah Ipamorelin, CJC-1295, BPC-157, TB-500. Senyawa-senyawa tersebut cenderung memiliki efek samping lebih sedikit ketimbang anabolik steroid.
Apa itu steroid?
Steroid anabolik adalah turunan dari testosterone, hormon seks utama pria. Obat ini berfungsi dengan mengikat reseptor androgen di jaringan otot dan tulang, yang mengaktifkan gen untuk :
- Meningkatkan sintesis protein
- Meningkatkan retensi nitrogen
- Meningkatkan hipertrofi otot
- Meningkatkan kekuatan
Meskipun steroid sangat efektif dalam membangun massa otot tanpa lemak, namun hal tersebut tidak lepas dari resiko kesehatan yang tinggi seperti :
- Ginekomastia
- Kebotakan
- Peningkatan resiko penyakit jantung atau stroke
- Penekanan produksi testosteron alami
- Toksisitas hati dan ginjal ( Endocrine Reviews )
Masih banyak lagi efek samping dari penggunaan steroid bahkan yang terparah bisa menyebabkan kematian. Lantas apakah Peptide memiliki efek samping yang sama seperti streoid? Mari kita cari tahu.
POTENSI EFEK SAMPING PEPTIDE
Meskipun peptida umumnya dianggap lebih aman dan lebih ringan daripada steroid anabolik, namun bukan berarti tanpa efek samping. Penggunaan yan gtidak tepat atau dosisi tinggi tetap dapat menimbulkan risiko.
- Resistensi Insulin
Peptida tertentu, khususnya yang menstimulasi IGF-1 atau hormon pertumbuhan (GH) , dapat meningkatkan kadar insulin dan mengurangi sensitivitas insulin seiring waktu. Hal ini dapat meningkatkan risiko terkena sindrom metabolik atau diabetes tipe 2 , Terutama penggunaan yang berkepanjangan atau berlebihan ( sumber : Schafer et al., 2002 , Trends in Endocrinology & Metabolism ).
- Ketidakseimbangan Hormon
Penggunaan Peptide berlebih dapat menyebabkan gejala ketidakseimbangan hormon seperti : Retensi air, perubahan suasana hati, peningkatan nafsu makan dan perubahan libido.
Itu dikarenakan Peptide secara tidak langsung menstimulasi sistem endokrin. penggunaan dosis dan siklus yang tepat sangatlah penting.
- Efek Jangka Panjang Yang Tidak Diketahui
Karena penggunaan peptide dalam konteks atletik dan estetikatergolong baru, data jangka panjang pada manusia masih terbatas.
Potensi efek samping yang belum diketahui tetap ada, khususnya pada peptide non farmasi atau bahan kimia yang tidak ditujukan untuk penggunaan manusia.
Jadi bagaimana reps mania? sudah tau kan manfaat dan resiko jika kalian menggunakan kedua obat ini. Saran kami, jangan gampang termakan FOMO yang belum jelas manfaatnya.
Baca juga : Stacking steroid & efek sampingnya




