
Stres tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, termasuk tekanan darah.
American Heart Association menjelaskan bahwa ketika kita menghadapi situasi yang penuh tekanan, tubuh akan melepaskan kortisol dan adrenalin ke dalam darah yang memicu respons, lawan atau lari (fight or flight).
Yang menyebabkan detak jantung meningkat, pembuluh darah menyempit, dan tekanan darah naik. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan jantung.
“Tekanan darah tinggi, atau hipertensi, adalah kondisi medis di mana kekuatan darah yang menekan dinding arteri secara terus-menerus tinggi,” jelas Dr. Nneoma Oparaji, spesialis penyakit dalam dan gaya hidup di Oregon, AS, seperti dikutip dari halaman Eating Well.
Lebih lanjut Dr. Nneoma Oparaji menerangkan sayangnya, tubuh tidak dapat membedakan antara keadaan darurat yang sebenarnya atau stress sehari-hari.
“sehingga tubuh merespons dengan melepaskan hormon stres yang sama yang meningkatkan tekanan darah,” tambahnya.
Para ahli menjelaskan bahwa stres terbagi menjadi dua jenis, yaitu stres akut dan stres kronis.
Stres akut biasanya bersifat sementara, seperti saat menghadapi konflik atau menerima kabar buruk. Dalam kondisi ini, tekanan darah umumnya akan kembali normal setelah pemicunya hilang.
“Biasanya, setelah pemicu stress situasional (stres akut) hilang dan seseorang tidak lagi merasa stres, tekanan darah akan kembali ke kondisi semula,” kata Erika Kawamura, Psy.D., DipACLM, seorang psikolog berlisensi di Pennsylvania.
Berbeda dengan stress kronis yang berlangsung lama. kondisi ini membuat tubuh terus-menerus dalam mode ‘siaga’ sehingga tekanan darah cenderung tinggi dalam jangka waktu yang lama.
“Stress kronis seringkali menyebabkan kondisi medis jangka panjang seperti hipertensi atau stroke,” kata Dr. Nneoma Oparaji
Untuk mengelola stress dan menjaga tekanan darah tetap stabil, para ahli merekomendasikan beberapa langkah sederhana. Di antaranya adalah latihan pernapasan dalam, dan berlatih bersyukur.
Sebuah studi tahun 2016 dalam Work: A Journal of Prevention, Assessment & Rehabilitation meneliti apakah menarik napas dalam memengaruhi tekanan darah di antara siswa yang melaporkan stress mental tinggi. Mereka menemukan bahwa teknik ini memiliki hasil yang signifikan dalam mengurangi stres dan tekanan darah pada siswa tersebut. Jadi, jika Anda merasa stress, mungkin bermanfaat untuk berhenti sejenak dan mengambil beberapa napas dalam-dalam .
Selain itu, Sebuah studi kecil tahun 2020 yang diterbitkan dalam Journal of Happiness Studies menunjukkan bahwa mempraktikkan rasa syukur dapat meningkatkan kesejahteraan mental Anda. Ini adalah salah satu cara untuk melihat stress dari perspektif yang lebih luas.
Jadi, jika Anda merasa stress saat ini, cobalah untuk melakukan dua hal diatas. Selamat mencoba.
Baca juga : STRES = DIABETES ?




