
Gelombang kematian melanda dunia binaraga pada tahun 2025. Dilansir dari Box Life Magazine terdapat lebih dari 50 atlet kehilangan nyawa mereka, sebagian besar berusia 30-an, banyak yang meninggal tanpa peringatan.
Sebagian besar meninggal karena serangan jantung. Sehingga menimbulkan pertanyaan publik apa yang sebenarnya terjadi di balik layar dunia binaraga kompetitif.
Ini bukan hanya tentang steroid lagi, ini tentang suntikan yang terkontaminasi, dosis ekstrem, pelatih yang menghilang ketika tragedi terjadi dan atlet yang rela mempetaruhkan nyawa hanya demi kesempurnaan fisik di atas panggung.
Dua Pemuda Asal Brazil Meninggal Dalam Beberapa Hari
Baldo Marquez Jr. baru berusia 25 tahun ketika jantungnya berhenti berdetak pada tanggal 22 Desember 2025.
Dia adalah seorang atlet binaraga pria yang sedang naik daun dan mengejar kartu profesionalnya (Pro Card). Ia meninggal secara mendadak (serangan jantung) jelang beberapa hari sebelum kompetisi.
Menurut laporan, Baldo secara konsisten memuji pelatihnya dalam unggahan media sosial. Namun ketika tragedi terjadi, hanya keheningan yang menyelimuti.
Tak lama kemudian, seorang binaragawan Brasil lainnya meninggal dalam keadaan yang mengerikan.
Kevin Notário Nunes de Oliveira, 28 tahun, dilarikan ke rumah sakit karena nyeri kaki yang parah. Dokter mendiagnosisnya menderita nekrotizing fasciitis—yang umumnya dikenal sebagai infeksi bakteri pemakan daging—yang dengan cepat menghancurkan jaringannya.
Sang Ayah membenarkan bahwa infeksi tersebut berasal dari penyalahgunaan steroid anabolik suntik , kemungkinan disimpan secara tidak benar atau dibeli di pasar gelap tanpa kontrol kualitas. Suntikan yang terkontaminasi memasukkan bakteri mematikan langsung ke dalam jaringan otot.
Hulk Asal Rusia

Nikita Takachuk—yang dikenal sebagai Hulk Rusia —meninggal pada usia 34 tahun akibat kegagalan multi-organ pada Mei 2025.
Nikita pernah menjadi atlet angkat beban yang handal: deadlift 349 kg, squat 360 kg, dan bench press 210 kg. Ia meraih gelar Russia’s Prestigious Masters of Sports pada usia 21 tahun.
Karena ketidakpuasannya, di tahun 2015, Nikita mulai memasukkan synthol (minyak penambah ukuran) ke dalam ototnya.
ia dilaporkan menandatangani kontrak dengan perusahaan farmasi yang mengharuskan penggunaan synthol secara terus menerus untuk tujuan promosi.
Akhirnya dokter mendiagnosis penyakit autoimun (sarkoidosis), diikuti oleh gagal ginjal, masalah paru-paru, edema paru, pembekuan darah, dan henti jantung.
Juara Tiongkok : Hasil Tes Darah Bersih Tidak Berarti Apa Apa

Wang Kun adalah juara nasional delapan kali berturut-turut di Tiongkok yang mendapatkan kartu IFBB Pro-nya pada tahun 2022.
Dengan tinggi hanya 165 cm tetapi berat 260 lbs, fisiknya sangat besar untuk tinggi badannya. Dia berkompetisi di berbagai divisi termasuk Classic Physique, 212, dan Open.
Beberapa hari sebelum meninggal dunia di usia 30 tahun, Wang menjalani pemeriksaan medis rutin yang menunjukkan tidak ada kelainan —hanya gejala flu ringan.
Namun, ia tetap mengalami serangan jantung mendadak.
Masalah Akuntabilitas Pelatih
Ketika atlet menang, pelatih merayakannya secara terbuka—dengan bangga mencantumkan nama mereka pada kemenangan dan memposting transformasi klien di media sosial.
Namun, sebaliknya ketika para atlet meninggal , para pelatih seringkali menghilang tanpa jejak.
Para pelatih merancang protokol dehidrasi ekstrem, meresepkan diuretik dan senyawa berbahaya, memaksa atlet menjalani latihan brutal saat kekurangan kalori—lalu menghilang ketika konsekuensinya berakibat fatal.
Data Tidak Bohong
Dikutip dari Box Life magazine, Berdasarkan kasus yang didokumentasikan dari tahun 2025:
- Lebih dari 50% meninggal karena masalah yang berkaitan dengan jantung.
- Usia rata-rata: sekitar 35 tahun
- Banyak yang meninggal mendadak.
- Hasil pemeriksaan darah yang bersih tidak mencegah kematian mendadak.
- Usia muda bukan jaminan.
Serangan jantung telah merenggut nyawa para juara di berbagai benua: Brasil, Cina, Iran, Rusia, Korea, Spanyol, AS, India, Kolombia, Australia.
Ini bukan kebetulan—ini adalah konsekuensi.
Harga Yang Harus Dibayar Dari “Kesempurnaan”
Setiap atlet yang disebutkan mengejar mimpi yang serupa: kartu pro, panggung Olympia, ketenaran di media sosial, daftar klien, kesepakatan sponsor.
Namun, ada satu hal yang mereka lupa. Meninggalkan keluarga yang berduka.
Tidak ada trofi yang dapat membenarkan anak-anak menjadi yatim piatu.
Tidak ada kartu pro yang membenarkan meninggalkan para istri.
Jumlah pengikut Instagram tidak bisa menggantikan kehilangan nyawa yang hilang.
Binaraga terus mendorong batasan lebih jauh setiap tahun—standar massa otot semakin tinggi, kondisi fisik semakin ekstrem, dan protokol penggunaan obat-obatan semakin berbahaya. Tentu jumlah korban akan terus meningkat.
Akankah Anda selanjutnya?
Baca juga : Cegah Penyakit Jantung dengan Rapsberry




