
Seorang wanita berusia 68 tahun di Amerika Serikat mengalamin kondisi medis yang langka usai mengonsumsi antibiotik. Hal itu dilakukan untuk mengobati peradangan kulit di wajahnya.
Dilansir dari Livescience, awalnya wanita tersebut diresepkan antibiotik oral jenis Minosiklin (minocycline) dengan dosis 100mg per hari. Obat itu untuk mengatasi gejala rosacea atau kondisi peradangan kronis yang menyebabkan wajah memerah dan timbul bintil-bintil mirip jerawat.
Obat ini dipilih karena memiliki efek anti inflamasi yang kuat untuk meredakan penyakit tersebut. Namun, dalam waktu dua minggu setelah rutin mengonsumsinya, muncul gejala yang aneh.
Muncul bercak gelap mulai terlihat dalam waktu enam minggu. Bercak tersebut meluas ke seluruh lengan dan kaki.
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang ditulis oleh Aari Maharaj dari University of Florida, wanita tersebut didiagnosis mengalami Hiperpigmentasi terinduksi tipe II. Kondisi ini ditandai dengan perubahan warna abu-abu pada kulit normal di area luar lengan dan kaki.
“Kondisi ini biasanya baru berkembang setelah berbulan-bulan menjalani pengobatan (jangka panjang). Namun dalam kasus yang jarang terjadi, bisa muncul dalam durasi pengobatan yang sangat singkat,” tulis laporan yang dipublikasi dalam jurnal medis The New England Journal of Medicine.
Hal ini terjadi karena hasil pembuangan atau metabolit dari antibiotik tersebut mengikat zat besi di dalam tubuh, lalu menumpuk di dalam sel imun kulit.
Obat ini memicu sel penghasil pigmen warna kulit menjadi terlalu efektif, sehingga menciptakan gumpalan pigmen gelap yang tertinggal di jaringan kulit.
Dalam kasus ini, tim dokter meminta pasien untuk segera menghentikan konsumsi Minoskilin. Pasien juga disarankan untuk menghindari paparan sinar matahari, karena sinar ultraviolet dapat memperburuk kondisi pigmen gelap tersebut.
Baca juga : Mengenal Anemia Aplastik Yang Bisa Menyebabkan Kematian




